headlines

20 Mei 2009

Hancurnya Mimpiku, Aku dan KoKi

(Imung Hikmah - Jakarta)

(Untunglah Cuma Sementara)

Selama seminggu di bulan April saya pergi menyepi. Benar benar menyepi melakukan tapa brata. Seminggu itu saya berkomitment untuk tidak berbicara, membaca, menulis, mendengarkan radio, musik ataupun menonton tivi. Jangan tanya, handphone, laptop dan internet, itu barang haram yang harus dijauhkan selama melakukan tapa brata tersebut.

Aneh, saya tak pernah merindukan memakai handphone, atau mengkontak keluarga selama berada di tempat tapa brata ini. Tapi Koki selalu ada dalam kilasan di benak saya di sela sela Meditasi. Ketika saya menikmati indahnya hamparan sawah dan gunung di hadapan saya, ingin sekali saya membaginya dalam tulisan untuk para kokiers. Ketika dada saya meluap menyaksikan bintang berkelip diselingi merdunya orkestra alam dari kodok, tonggeret, burung, dan jengkerik, saya teringat Koki dan Kokiers. Terasa ada desakan untuk mengabadikannya dalam kata kata untuk saya bagi kepada para Kokiers.

Dan pengalaman batin yang paling indah yang saya rasakan adalah ketika kami bermeditasi untuk loving and kindness. Ada beberapa tahap dalam Meditasi loving kindness dimana kita diminta untuk mengingat dan mengirimkan energi kebaikan, dan well wishes kepada beberapa kelompok orang atau group. Semakin tinggi, adalah group atau orang yang paling tidak punya hubungan personal yang mesra dengan kita. Di tahap itu, Koki dan Kokiers termasuk kelompok yang saya ingat, selain tukang ojek saya, para tetangga dan cowok cowok yang pernah saya kecewakan dan mengecewakan saya…’May Koki and Kokiers Be Happy’ … Oh angin, kirimkan salam terimakasihku untuk mereka. ‘May Zev, para penulis, para komentator dan para silent readers be happy…’

Secepatnya saya kembali dari menyepi itu, saya seperti orang kesetanan menulis tentang pengalaman saya bertapa di Bali, excited untuk mengirimkannya ke Zev segera. Tidak mudah menuangkan perasaan dan pengalaman batin luar biasa yang saya alami dalam sebuah tulisan amatiran. Apalagi menuliskannya dengan bahasa guyon saya, dan berharap bisa dimengerti oleh sahabat Kokiers…Tulisan itu tidak pernah selesai cepat seperti saya harapkan, karena adanya bom pengumuman yang jatuh di halaman Koki…

Suatu pagi saya melongo dan tak percaya membaca pengumuman Kompas. Bye Bye Koki… (Rupanya loving and kindness wishes yang saya kirim supaya semua warga Koki berbahagia, nyangkut di langit sana – nyatanya, bukannya bahagia, kita semua menangis, meskipun mungkin dalam hati saja).

Saya belum pernah di vonis penjara tapi pernah divonis putus oleh mantan pacar (pacar) saya. Membaca berita itu, perasaan saya campur baur kombinasi seseorang yang di vonis penjara dan diputusin pacar. Mungkin lebih gila lagi. Kok bisa ya hati saya ngilu, marah dan sedih persis seperti ketika saya mendengar Amerika membom museum dan situs arkeologi dan budaya kuno Babilonia diawal invasi Amerika di Irak. Waktu itu saya merasa mimpi saya sebagai peminat sejarah dan budaya kuno baru saja dihancurkan oleh para bomber Amerika.

Mengunjungi situs Babilonia adalah salah satu impian saya sebelum saya menjadi nenek-nenek. Kali ini, Kompas baru saja menghancurkan mimpi saya untuk menjadi seorang penulis rajin di Koki.

Memang saya selfish, dan punya tujuan tersembunyi dengan mengirim tulisan ke Koki (Kompas) waktu itu. Saya ingin mengasah rasa bahasa saya. Kokilah tempat yang menurut saya paling tepat. Saya rasa, banyak sekali impian orang lain penggemar Koki juga hancur karena dihapusnya Koki dari Kompas. Saya merasa singit.

Bisa saya bayangkan perasaan Zev dan para veteran Kokiers. Wong, saya yang baru kenal koki saja sinting begini, bagaimana dengan mereka? Pernahkah merasa ngilu hati sampai menjalar ke telapak tangan? Itulah yang saya rasakan. Saya juga kehilangan semangat dan inspirasi untuk menulis. Saya merasa hampa setiap memandangi laptop. Memang tidak nalar, tapi peristiwa ini juga mempengaruhi pola makan saya terutama di week-end. Biasanya saya sibuk memencet tombol laptop, mencari kata kata tepat, menulis menghapus menulis lagi, sampai lupa makan dan mandi. Semenjak Koki di hapus dari Kompas, di week-end, saya kembali sibuk dengan kebiasaan lama saya nonton filem seri dari DVD bajakan sembari gegares (makan, makan dan makan…). Saya curiga saya sekarang bertambah tumbuh besar secara horizontal…

Saya punya tiga belas bahan cerita termasuk pengalaman bertapa, menanti semangat dan inspirasi yang belum mampir mampir juga. Untuk orang lain, mungkin mudah asal sudah ada bahannya. Tapi sulit sekali buat saya jika inspirasi itu tak ada disana. ‘writer’s block’ kata orang pinter. ‘ Post Koki-Kompas Impotency Syndrome’ begitu mungkin kata La Rose.

Beruntunglah saya baru saja bertapa, jadi level emosi saya masih dibawah normal untuk situasi ini. Kalau tidak, mungkin komentar saya di kolom yang berjumlah seribu-an page itu akan menambah koleksi kata kata emosional dan sumpah serapah yang tak perlu. Saya ingin melakukan sesuatu untuk membuat perbedaan di Koki, tapi tangan dan kaki saya terbelenggu. Saya ingin membantu, tapi yang saya bisa hanya memberikan dukungan moral. Menulispun saya masih impoten. Tak berdaya.

Ingin saya menuliskan sesuatu yang special untuk Zev, dan sahabat Kokiers yang berjasa memelihara kesatuan dan persatuan Kokiers, lebih dari sekedar beberapa komen dan tulisan terakhir disana. Tapi saya merasa, ini hanya akan mengganggu kelancaran Zev mencari jalan keluar untuk Koki. Jadilah saya silent supporter, sembari termangu menunggu di depan laptop. Siapa tahu turun inspirasi dari langit, dan saya bisa kembali berbagi dan membaca cerita, dan menerima komen dari para Kokiers….

Ditengah rundungan macet otak untuk menulis, tiba tiba saya teringat kata kata mutiara, yang saya lupa dari siapa. Rasanya ini cocok sekali buat Koki dan Kokiers: ‘What does not kill you, will only make you stronger…’.

Saya menanti Koki kembali, lebih kuat, mantap dan heboh


****


Aku dan KoKi
(Ria Wassef - Amerika)

Zevie,

Apa kabar ? masih sibuk dengan perencanaan rumah baru koki ?. Pertama saya mau mengucapkan rasa kekaguman saya terhadap Z yang rela mengorbankan karirnya demi memperjuangkan Koki. Disini jelas terlihat bahwa bukan uang semata yang Z kejar tetapi lebih kepada harga diri dan kesenambungan orang banyak.

Sudah lama saya tidak menulis, pertama dikarenakan kesibukan saya dan masalah pribadi. Kalau saya dulu dikenal sebagai seseorang yang terlalu terbuka mengumbar kehidupan pribad idi publik, sekarang mungkin sudah insyaf, karena mungkin hal hal yang pribadi tidak selalu baik untuk didengung dengungkan.

Kedua karena saya agak kecewa, sebab walaupun artikel saya tidak mengandung hal hal yang kontroversi, tetap mengundang beberapa gelintir orang untuk mencela dan menghujat pribadi dan penampilan saya (contoh di artikel kopdar saya dengan Phie dan beberapa kokiers di Jakarta).

Sayangnya, sifat saya hamper sama dengan Z, dimana saya lebih mengutamakan prinsip dan harga diri, daripada diinjak injak atau dihina, maka dari itu zaman koki dulu sering saya mengungkapkan amarah di publik jika ada yang menganggu saya. Padahal aslinya saya kalem banget lho Z.

Anyway, saya mau menuliskan pengalaman saya selama saya mengenal koki. Mungkin koki baru belum banyak mengenal saya, karena saya vakum menulis sudah lama sekali. Saya mengenal koki jauh sebelum ibu RO mengirim artikelnya ke kolom kesehatan. Waktu itu koki masih diasuh oleh seorang dokter.

Saat itu saya sudah rajin membaca kompas dan berbagai media online lainya. Hingga suatu saat saya melihat ada yang berubah di kolom kesehatan, kolom itu sudah tidak diasuh oleh dokter, dan ada tawaran untuk mengisi artikel. Saat itu saya masih ingat bulan Agustus 2005, saya memberanikan diri mengirim artikel pertama saya yang berjudul “Bulan September, bulan tepat mencari jodoh”.

Dalam artikel itu saya cantumkan email tempat saya kuliah dulu di Phoenix. Reaksinya sungguh diluar dugaan, semenjak artikel itu ditayangkan, saya mendapat ratusan email dari pembaca, yang sebagian menjadi kokiers aktif, termasuk diantaranya La Rose, Rini Prasodjo, Mbak Al di Kanada, dan juga Night.

Sebagian besar lagi memilih jadi silent reader, yang tetap aktif mengikuti koki sampai saat ini. Dari ratusan email itu, saya coba membalas satu satu. Banyak sekali animo gadis gadis di tanah air dan juga perjaka perjaka yang berusaha mencari jodoh melalui tangan saya, padahal sungguh mati saya menulisi artikel itu bukan berarti saya yang akan membantu kedatangan mereka kesini, saya hanya memberitahukan channel channel untuk mencari jodoh di US.

Karena dianggap saya tidak banyak membantu, banyak gadis gadis dan perjaka perjaka itu yang kemudian beralih menjadi antipati terhadap saya. Di kemudian hari, ketika berbagai artikel saya sudah keluar, dan saya mendapat berbagai hujatan dan makian, saya beranggapan bahwa sebagian dari para penghujat itu adalah orang orang yang kecewa dengan kealpaan saya membantu mereka.

Life goes on. Artikel kumpul kebo saya kemudian menjadi cikal bakal kehebohan di koki, saat itu artikel yang berbau sex dan yang tidak cocok dengan pandangan adat timur masih dianggap tabu, tidak seperti koki sekarang yang makin terbuka dan vulgar. Sejak saat itu saya resmi menyandang predikat sebagai penulis controversial.

Ditambah dengan artikel artikel selanjutnya yang cukup membuat pembaca panas, seperti artikel Babi, Dokter di Indonesia, Jilbab, Ganti Agama, Swinger, Wawancara dengan Penari Telanjang/Stripper, termasuk dengan kisah pernikahan dan kehidupan pribadi saya.

Banyak yang menggap saya hanya mendongeng atau memberi cerita khayalan, sejalan dengan itu juga gossip gossip layer belakang akrab mewarnai kehidupan saya. Tadinya saya tanggapi semua itu satu persatu, hingga julukan saya bertambah lagi sebagai tukang ribut dan hobi marah marah disana sini.

Akhirnya, sampai juga saya ke satu titik, yaitu titik kejenuhan. Jenuh dengan dunia pertikaian, jenuh dengan dunia pergosipan, jenuh dengan dunia adu domba, muka dua, ketidak tulusan dalam bersahabat, kebohongan dan sebagainya. Hingga tawaran dari Juwita untuk mengisi kolom 20/20 saya tolak, karena saya merasa saya tidak layak ditampilkan. Cap saya sudah terlalu buruk.

Sekarang dengan absennya saya tidak menulis, membuat hidup saya lebih tenang. Teman teman dari koki pun bertambah, satu persatu yang dulu kelihatan enggan berteman dengan saya, mulai mau mencoba berteman. Waktu kopdar kemarin pun, saya kenalan dengan banyak kokiers yang selama ini saya hanya tahu dari nicknamenya bukan nama aselinya.

Harapan saya di koki baru nanti, janganlah kita saling bertengakr, injak menginjak, tuding menuding, dan berperilaku negative, jaga rumah baru kita dengan etika dan perilaku yang baik. Jangan sampai rumah baru yang dibangun Z dari tangannya sendiri tercoreng moreng dan kemudian jatuh lagi. Saya yakin seluruh koki sudah merasakan akibat dari kejatuhan koki di Kompas. Mari kita sambut rumah baru dengan tangan terbuka, saling membantu, untuk kemajuan koki.

(tabiik).

Komentar :

ada 40 komentar ke “Hancurnya Mimpiku, Aku dan KoKi”
fya mengatakan...
pada hari 

pertamax..??

AnakD3s4 mengatakan...
pada hari 

Absen dulu ah...

fya mengatakan...
pada hari 

pertamax..?

fya mengatakan...
pada hari 

mau koko koq suseh sehhhh...

fya mengatakan...
pada hari 

susah neh mo koko... napa yaks..?

Anonim mengatakan...
pada hari 

pertamax
wati

AnakD3s4 mengatakan...
pada hari 

Imung >> bagus banget kata2 bijaknya & relevan untuk Koki skrg ini: ‘What does not kill you, will only make you stronger…’.
Imung, loving and kindness wishes kamu dah nyampe kok di Gubuk Penampungan/Tenda Darurat/Gubuk Derita ini ;-)
Yihaaa! Hidup Koki!

Ria Wassef >> selamat utk pertobatan/pencerahannya :-)
Aku yakin peristiwa penggusuran Koki oleh kokom.com telah membuat Kokiers lebih solid dan lebih dewasa utk menjaga rumah barunya secara lebih arif termasuk menjaga pertemanan sbg sesama Kokiers. Tetap semangat! Yihaaa!

fya mengatakan...
pada hari 

yiiihhhaaa.... pertamaxxx!!
bisa juga akhirnya..koq jadi double ya? hihihi

endang_batubara mengatakan...
pada hari 

welkambek ria....saya salah satu penggemar tulisan2 ria, walau kadang kontro....hehe....seneng akhirnya bisa berbesar hati...:)

Josh Chen mengatakan...
pada hari 

Imung: terima kasih perenungannya....terima kasih sharing di sini....

Ria: harapan kita semua sama...terima kasih sudah menulis lagi di sini, walaupun di gubuk penampungan....

AnakD3s4 mengatakan...
pada hari 

Fya >> kalo bukan server yg lemot, berarti koneksi internet Fya yg lagi lemot... Slamat ya utk pertamax-nya.. he 3x

Anonim mengatakan...
pada hari 

>>Imung: "Post Koki-Kompas Impotency Syndrome" ha..ha..ha.. Untungnya cuman sementara ya.

>>Ria: Bagi kokiers sejati, pasti akan saling menjaga keutuhan dan kedamaian di rumah baru nanti.

Ocha "Pecandu KOKI"

Nunik mengatakan...
pada hari 

Ocha yg baik, bukan salah Kokiers atas apa yg terjadi selama ini, namun lebih pada pihak Kompas yg semena-mena terhadap KoKi.

Dewi Meong mengatakan...
pada hari 

Imung, hi hi hi, baru tau yah kehebatan KOKI hahah, bikin rindu kan, hahaha....asal gak benci aja yah cuman ada rindu aja, soalnya katanya rindu itu deket dengan benci, eh salah denk cinta deket sama benci, hehehe.Jadi semoga hanya ada CINTA DI KOKI ciee ileee

Ria, semoga kokier koki baru rukun2 aja yaak, kalau ada dhemit yang ngadu domba jangan mau yak, domba nya dibikin sate aja , wah enak tuuh, hahaha.apa dibikin domba guling, buat selametan rumah baru KOKI, hahaha.

GBU KOKIER

Elisabeth mengatakan...
pada hari 

Hai..hai.. Ria..
Wah tajem bener ya tulisannya, ntar ada yg tersinggung lho...hihihi
Tetap semangat..!

Anonim mengatakan...
pada hari 

Imung, I shared your sentimental feeling :D

Ria.. aku kangen sama tulisan2mu.. (Juwi)

Anonim mengatakan...
pada hari 

Imung...asikkk rupanya udh jatuh cinta yee ama KOKI..hihihi..semoga ada yg berjodoh di KOKI..


Ri...Yeess!!...hahahaha

With EmberPecah

Josh Chen mengatakan...
pada hari 

Mau nitip Koko akh dari tadi enggak bisa masuk nih:

@Imung: Ouch begitu ya; trus terang waktu lagi balapan itu sempet bingung ama satu2nya Koko Imung yg panjang, netral en cenderung membela kebijakan penguasa... daku be-tanya2 pada diri sendiri ..."apa sih warnanya nih orang"..sementara Kokier yang lain begitu gahar en ber-api2 sampe si ember pecah buka BH segala....ha,ha. Bagus juga ya, efek bertapa...jadi sabaar.

@Ria: ditempat baru nanti Kokier kiranya bisa saling jaga keamanan rumah baru, sebab dhemitz pasti masih berusaha obrak-abrik...jangan sampe kita kepancing.

@JC: gimana cara ngakses tulisan Ria, tadi cari di google gak dapet.
Thanks dah uploadin nih Komen.

Josh Chen mengatakan...
pada hari 

Eh, lupa nulis, titipan dari ALEXA...sekalian jawab, tulisan Ria yang mana? Dari 2005 sampe 2008 banyak sekali. Saat ini Romo Flores, saya dan IT Mamak Z pegang semua database artikel dari 2005 - terakhir, semoga di rumah baru bisa kita akses lagi, ada arsip artikel lama sehingga semua bisa baca-baca lagi.

Realisasinya, kita tunggu Mamak Z lah....

Vera Ernawati mengatakan...
pada hari 

Harapan saya di koki baru nanti, janganlah kita saling bertengakr, injak menginjak, tuding menuding, dan berperilaku negative, jaga rumah baru kita dengan etika dan perilaku yang baik.

(setuju banget sama pernyataannya Mbak Ria)

Natya mengatakan...
pada hari 

absen, abseeeen
aduh, imung masih lutcu koq ...
mbak ria juga masih wokeh ...
aku cinta KoKi ...

AnakD3s4 mengatakan...
pada hari 

Dewi Meong >> kayaknya para dhemit dah pada nyerah deh, mungkin takut dibikin sate domba atau domba guling oleh Dewi.. he 3x. maklum lah, mereka kan CUMA PESURUH yg gak punya sense of belonging/integritas spt para Kokiers.

Ini aku nemu Koko lama:
"T.Moken mengatakan... pada hari 2009 Mei 1 09:09

Jon leung, Di Forum thread KOMP**... Mereka memonitor setiap komen disini. Di Greetings 1 dikatakan KoKiers akan diaduk-aduk agar pecah. Jadi waspada !!"

Sudah terbukti bhw Koki & Kokiers gak bisa diaduk-aduk agar pecah. Mungkin juga para Landlords sdh kehabisan dana utk bayar para pesuruh (dhemit2) dan kecewa krn para dhemit itu GATOT alias gagal-total menghadapi Kokiers yg solid...

Hidup Koki!
Mari menghitung hari menuju Selametan/Kenduren Rumah Baru Koki minggu depan!

Linda PT mengatakan...
pada hari 

Imung : udah, jangan jadi sinting lagi, yah, kan sekarang kita di penampungan dulu sebelum mendapat rumah baru yang kita harapkan lebih asri, so kita semua bisa lebih enjoy dengna KoKi yang baru.

Ria : welkom bak, hehehe. aku termasuk penyuka artikelmu dari yang biasa ajah sampe yang kontro. Itulah Ria. Mau menulis lagi, kan?

Linda PT
lindacheang (google)

Plux mengatakan...
pada hari 

Ria, Setujuh - setujuhbelas :-P
Ya semoga di new koki nanti kita lebih bisa berargumen dengan damai tanpa caci maki. I really agree with you

farvel mengatakan...
pada hari 

Imung-> benar itu..kita semua cinta KoKi..

Ria-> emang benar yah..KoKiers jgn saling berperilaku negative..tetap positif aja..utk menghargai kerja keras mamak Z yg udah sekuat tenaga utk selalu mengumpulkan KoKiers...

Utk Imung dan Ria thx yah udah sahring disini ditenda darurat

Dewi Meong mengatakan...
pada hari 

AnakD3s4, wah asik donk kalau dhemitnya dah nyerah, jadi kita bisa bikin sate kambing beneran, wuakaka
bukan kambing hitam hahaha

Mari kita panjatkan doa semoga Koki baru sukses selalu

GBU KOKIER

raya chan mengatakan...
pada hari 

wahhhhh..mbak riaaaaa...akhirnya menulis lagi...kapan nih tulisan controversialnya keluar lagi??xixixixii....

TwinsMom mengatakan...
pada hari 

Ria, hehe kamu ngga nyindir saya kan? :) tp kejadian kamu dulu dgn temanmu si E, betul2 mengharu-birukan jantungku..seriusloh jantungku kek mo copot waktu baca emailmu dulu itu...bikin saya jadi enggan berteman scr pribadi dgn KoKiers lainnya. males email2an or telp2an..takut sakit hati kaya kamu dulu..mending sakit gigi aja kali ya? p.s. tapi kalo kita semua slalu sependapat, manut2 aja, bukannya malah bosenin?

Alexa mengatakan...
pada hari 

Haiya tgl. 27 masih lama yak.... oh Mamak Z i miss u; wakakak....

IWAN SATYANEGARA KAMAH mengatakan...
pada hari 

Harapan Ria untuk KoKi kedepan sangat mulia, namun semua itu tentu berpulang pada Kokiers. Akan sangat sulit ketika dihadapkan dengan yang dinamakan tabiat. Memang secara jumlah tidaklah signifikan, namun beberapa oknum Kokiers sendiri baik disadari ataupun tidak dari sisi tabiat dan perilakunya justru kontraproduktif dengan tujuan KoKi.

pinginaja mengatakan...
pada hari 

Mbak Ria...yee akirnya nulis lagi.....ayo cerita2 lagi yang lain....

Anonim mengatakan...
pada hari 

Walentina mo ikutan ah:
@Imung: Yang perlu digarisbawahi di sini, saya yang setua ini (gimana sih tuanya), mesti dengan tulus mengakui saya ini penggemar berat tulisan-tulisan Imung. Dari dulu emang saya gak ninggalin comment kalo Imung nulis. Begitu juga mungkin ada penulis lain, kalo ada yang nulis dan saya gak ikutan koko, bukannya karena saya gak perdulian dengan tulisannya lho. Buktinya Imung ini biarpun dari dulu saya gak pernah comment buat artikelnya, tapi saya nge-fans buanget ama Imung kok. (minta dong tandatangannya).
Jangan ditanya ya Mung, kenapa jarang ninggalin koko. Lha wong saya ini sa'betulnya pengamat tulen kok. Mengamat-amati kan lebih gampang daripada nulis koko apalagi nulis artikel yang angel itu......ya toh! (hehehe....nggak ding, mo nyumbang artikel juga kok buat NewKoKi).

NB: Tadi saya nyebut kata-kata "saya yang setua ini". Buat berondong yang naksir Walent, mohon jangan percaya kalo saya ini tua. Kalo mau naksir Walent, semoga kata-kata itu tidak membuat mas berondong patah semangat.

@Ria Wassef: Selamat dan senang kita reunian lagi di sini. Trims buat uneg-unegnya yang nostalgis, tapi masih aktual untuk melangkah ke NewKoKi.
Tiap penulis memang punya karakternya masing-masing. Yang suka rendah hati bilang kokier yang itu sok,sombong, suka menonjolkan diri. Dan yang udah berusaha rendah hati juga, bukan tidak mungkin bisa dituduh menyombongkan kerendah-hatiannya. Walaaah, serba salah. Sebaliknya yang sombong, tentu aja ndak bakalan ngaku kalo sombong…..kecuali saya. Maapin nih OOT. Semoga kita semua bisa menerima keaneka-ragaman sifat dan karakter di KoKi ini, apapun itu, selama tidak menyerang orang lain, moga bisa diterima dengan "jantan" (en betina) sebagai hal yang semakin memberi warna buat New KoKi.
Ria, aku tunggu lho tulisan selanjutnya.

dari aku pencinta demokrasi sehat,
Walentina Waluyanti

L.Hendranata mengatakan...
pada hari 

haloo Imung, duh salut udah selesai tapak brata ya? saya msh ngutang janji sama pak Merta sampai skg belum setor badan n hati utk ikut merenung dlm alam meditasi itu. Trims atas curhatnya disini, semua setuju KOKI unik dan bermakna utk kita semua.

Haloo Ria, wah udah lama gak baca curhatmu, terakhir kamu nulis ttg kopdar di jkt itu ya. ayooooooooo lupakan masa lalu, liat kedepan aja.! SETUJU kita bangun New KOKI dgn kesadaran bahwa segala warna yang bersatu padu itu INDAH adanya. jelas kita tidak bisa menyenangkan hati semua orang dan tidak bisa memaksa orang harus senang pada kita, yg penting kita tetap sebagaimana adanya diri kita.

salam hangat utk semua.

fatso mengatakan...
pada hari 

Imung, saya sangat sependapat. Belajar dari pengalaman pribadi yang sudah-sudah, reaksi yang berlebihan hanya merugikan diri sendiri saja karena kita membuang-buang energi secara percuma hanya demi kepuasan hati tanpa ada perubahan hasil. Jika sampai segala perbendaharaan isi kebon binatang dikeluarkan, maka kesan orang lain juga akan sangat negatif.

Ria, saya juga heran akan besarnya pengharapan orang bagi kita untuk bisa membantu mereka. Semuanya sudah ada prosedurnya dan keputusan juga tidak ditangan kita, tapi yang terutama adalah waktu dan tenaga kita juga sangat terbatas karena tiap individu punya prioritas yang harus dilakukan.

LynaKuwait mengatakan...
pada hari 

Mbak Imung, hehehe...i miss u 2
aku tunggu ya artikel2mu yg selalu bikin aku ngakak...Tenkyu bngt yah Mbak

LynaKuwait mengatakan...
pada hari 

Mbak Ria, betullll..kita semua harus lebih dewasa dari kemarin, agar Z n team gak kecewa, dah repot2 biaya, tenaga, pikiran n waktu, eeeh malah kokiers tetep dg kebiasaan lama, jangan sampe ex tuan tanah dulu mencibir n benar2 menempelkan cap kaki lima ama kita hix..

Ria Ratu Kontro mengatakan...
pada hari 

terima kasih komennya untuk kokiers, mudah mudahan saya bisa menulis lagi, setelah bertapa sekian lama, mudah mudahan bisa tayang pada peluncuran koki independepent. i love you all.

ariana mengatakan...
pada hari 

Imung : ditunggu tulisan-tulisannya yang apik dengan gaya bahasa khas Imung, thanks yaaa...

Mbak Ria W : kata penutup pada artikelnya sangat mengharukan, mudah-mudahan New KoKi seperti yang kita harapkan, ayoooo... ditunggu artikel-artikel menarik lainnya.

Salam hangat buat Imung, mbak Ria W dan KoKiers.

Jon Leung mengatakan...
pada hari 

Akhirnya Ria si Ratu kontro mau menulis lagi hehehe, Ayo semangat Ri, biarin tuch yang pada sirik sama elo, anjing menggonggong kafilah berlalu

sunnyCA mengatakan...
pada hari 

Yay.... Ria W muncul lagi! Thanks for the article Ri. Moga2 new Koki bisa seperti yang diharapkan dan Kokiersnya tambah dewasa. Aku sih heran dengan orang2 yang mengharapkan bantuan padahal ngga pernah ketemu atau kenal. Udah gitu ngomong jelek dibelakang kita. Get a life deh! Don't expect everybody to help you. Be independent.

Posting Komentar

 

Bilik Gemuruh (Chatroom)

Pelajaran SMP

Kokiers

HEADLINE NEWS
pengunjung sejak 29 April 09

Greeting